Langsung ke konten utama

Postingan

Bagaimana rasanya berlebaran setelah tidak menggunakan jilbab?

Tulisan ini lama tersimpan sebagai draft, mestinya kuselesaikan beberapa hari setelah lebaran kemarin. Baik. Jawabannya adalah melegakan sekaligus melelahkan. Mestinya keputusan ini kulakukan beberapa bulan sejak meninggalkan pengajian saat mahasiswa baru, tapi waktu itu saya terlalu penakut. Saya selalu khawatir terhadap apa yang orang lain pikirkan mengenai saya. Siapa yang ingin dianggap buruk? Saya tidak ingin, saat itu. Melegakan karena akhirnya saya berani melawan ketakutan-ketakutan itu. Saya berusaha tidak peduli apapun yang orang lain pikirkan tentang saya. Intinya saya hanya ingin mengurangi kamuflase dalam menjalani kehidupanku. Saya memiliki kehendak bebas. Dan persoalan agama? Saya sangat ingin jujur bahwa seandainya saya tidak berada di negara yang mewajibkan memeluk satu agama, saya ingin memilih tidak beragama. Kenapa? Karena pada akhirnya saya menyadari bahwa agama adalah salah satu tatanan khayalan yang bertujuan untuk melanggengkan suatu kekuasaan imp...

Oleh-Oleh dari House of the Unsilenced

Hai. Tanggal 30 Juli sampai 3 Agustus 2018 kemarin saya ke Jakarta mengikuti kegiatan bernama House of the Unsilenced (Rumah Kami yang Tidak Bungkam). House of the Unsilenced adalah ajang seni yang mempertemukan seniman, penulis, dan penyintas kekerasan seksual untuk bersuara bersama seputar tema mulai bicara, tubuh dan suara, dan kehidupan penyintas. Ajang seni ini bertempat di Jakarta dan adalah bagian dari Creative Freedom Festival 2018 yang diselenggarakan oleh Inter Sastra bekerja sama dengan Koalisi Seni serta beberapa Lembaga lainnya. Saya bisa ikut berkat ajakan dari Eliza Vitri Handayani, pendiri Intersastra. Di sana saya juga bertemu teman yang sejak lama kukenal melalui dunia zine dan craft, Ika Vantiani. Ia menjadi kurator untuk kegiatan ini. Serta beberapa teman baru. Ada beberapa rangkaian kegiatan seperti lokakarya membuat majalah/buku, decoupage, kolase 3D, penulisan fiksi, self care body movement, dan banyak lagi. Selengkapnya lihat akun Instagram @unsi...

FANTASI NANCY (INGIN KURAIH TELINGAMU)

Seseorang pernah mengatakan lebih mudah hidup dengan fantasi karena fantasi memberi makna pada penderitaan. Maka dari itu Nancy memilih mengurung dirinya di sebuah perpustakaan sebab ia merasa tidak membutuhkan apa-apa lagi selain fantasi. Sejak usia 20 tahun Nancy memilih karir sebagai pustakawan agar ia bisa selalu dikelilingi oleh kisah-kisah yang tak akan ada habisnya dan tak perlu bertemu manusia lagi. Perpustakaan tempat Nancy bekerja, melayani peminjaman buku hingga pukul 10 malam untuk mahasiswa. Suatu malam Nancy sedang menghitung jumlah buku yang belum dikembalikan bulan itu ketika seorang lelaki tiba-tiba datang menyapa. “Saya sedang mencari buku tentang seni.” “Seni sangat luas kak, beritahu lebih detail agar saya lebih mudah mencarinya.” “Saya sebenarnya juga masih bingung, saya sedang buntu mengerjakan tugas akhirku untuk membuat sebuah lagu. Dosen pembimbing menantang saya menulis lagu-lagu berbahasa Indonesia dan saya kebingungan memulainya dari mana.” “...

Mantra #1

Personalitas, harapan, dan hubungan-hubungan saya tidak pernah diam, dan mungkin bertransformasi sepenuhnya dari tahun ke tahun dan dari dekade ke dekade.  Namun, di bawah itu semua, saya tetap orang yang sama dari lahir sampai mati-dan mudah-mudahan sampai sesudah mati juga.

Nakal Boleh, Bodoh Jangan! (5 buku yang paling kurekomendasikan untuk dibaca)

(Kamu hanya butuh waktu membaca tulisan ini sekitar 3,7 menit jika kecepatan membacamu 300 kata per menit) “everything is connected to everything else” -Kalimat di ujung video klip Failed Imaginer-nya Propagandhi- Pernah tidak kamu berpikir seperti “ah kok karya-karya generasi sebelum saya keren-keren semua?” Entah itu saat mendengar musik, menonton film, melihat karya seni, atau membaca karya sastra. Beberapa tahun lalu saya selalu memikirkan itu. Merasa kesal sendiri karena rasanya tidak ada sisa untuk generasi belakangan seperti saya untuk membuat sesuatu yang baru, pokoknya semua yang keren-keren di dunia ini sudah pernah diciptakan! Kita hanya kebagian sesuatu bernama daur ulang pikirku saat itu. Hal itu membuat saya selalu bertanya-tanya, kalau begitu sebaiknya apa yang harus kuperbuat? Jawaban utama yang kutemukan adalah : membaca berbagai hal dan berdiskusi sesering mungkin. Namun apa yang harus saya baca? Jujur meski 10 tahun bekerja sebagai pustakawan, se...

Tentang Dawai Dawai Frankie Presto dan Jazz Untuk Mereka Yang Berusia 40 Tahun

OMG Chriss Cornell dikabarkan meninggal dan nyaris semua teman-temanku yang usianya jauh di atasku, memposting fotonya dengan ungkapan bela sungkawa. Di grup pertemananku-pun membicarakannya, kenapa ia sampai meninggal dan lain-lain. Saya sedikit menoleh, mencari tahu sebentar sambil berpikir “kenapa sampai saya tak kenal orang ini?” Tapi saya menghibur diri dengan berpikir mungkin saat itu saya masih kecil, toko kaset di pasar kampungku hanya menjual rilisan fisik Rhoma Irama itupun bajakan, tak ada nama Chriss Cornell. Selang beberapa hari saya membeli buku Pop Kosong Berbunyi Nyaring katya Taufiq Rahman. Sebenarnya beberapa tahun terakhir saya sendiri memutuskan untuk menahan diri tidak membeli buku lagi, karena nyaris semua buku yang ingin kubaca sudah ada di beberapa perpustakaan tempat saya berkegiatan. Dan sepertinya tidak pernah cukup waktu untuk membaca semua buku yang ingin kubaca karena selalu saja ada yang membuat saya kembali bertanya-tanya, lalu berujung mencari buku...

Tentang Mixtape "Your Sister Just Wanna Have Fun"

Halo, sebagai pengantar saja, tulisan ini kubuat sebagai lampiran dari mixtape yang kususun. Kupikir selain menikmati lagunya, membaca lirik selalu sama pentingnya. Sebenarnya ini hanya proyek suka-suka dalam bentuk zine, tapi saya juga ingin membagikannya di sini. Lagu-lagu ini sering kuputar, sembari membaca buku-buku tentang feminisme, semacam pemberi semangat saat saya mulai malas belajar. Saya ingin terlibat dalam mewujudkan kesetaraan, saya ingin melihat semua perempuan merasa aman dan nyaman melakukan apapun yang ia senangi, makanya saya tidak ingin berhenti belajar, sebab kupikir semua harus dimulai dari mengedukasi diri sendiri. Saya pernah menulis tentang hal ini di sini . Saya juga masih sedih sih beberapa gigs musik masih ada saja yang membuat cewek-cewek tidak nyaman karena ada oknum yang dengan sengaja menyentuh bagian tubuh perempuan tanpa seizinnya. Terus tambah sedih juga sama orang yang beranggapan “Salah sendiri, kenapa masih mau ke gigs? Itu resiko...