Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Tentang Keinginan Nona Merasa Nyaman dan Aman di Lantai Dansa

Sejak kecil saya senang menari.
Kupikir dari sabang sampai merauke kita punya tradisi menari masing-masing sejak lama.
Namun semakin beranjak remaja, sebagai anak perempuan, saya mulai diwanti-wanti menjaga tubuh. Tidak boleh ini itu demi "menjaga diri". Terlebih menari, harus dikurangi. Menari, berdansa, berjoget, apapun pilihan katanya, itu adalah aktivitas menyenangkan. Dan sejak kecil saya selalu membayangkan betapa menyenangkannya berada di tengah dancefloor.
Tapi tidak semudah itu untuk merasakan nyamannya berdansa bagi anak perempuan. Saat beranjak dewasa saya pernah mendengar petuah seperti ini "Jangan ke diskotik, laki-laki menganggap perempuan yang ke sana adalah perempuan tidak benar, jadi mereka seenaknya akan meraba-raba tubuhmu." Dan saya mendengar ketika pelecehan seksual terjadi di lantai dansa banyak orang yang akan menyalahkan korban "Ya kalau tidak mau disentuh jangan bergabung." Tapi kupikir kita semua bisa membedakan mana sentuhan yang di…

Tentang The Cranberries, Linkin Park, dan Perubahan Gaya Jilbab Saya

Sudah nyaris 10 tahun sejak saya merayakan ulang tahun ke-17 di sekolah. Ada banyak yang terjadi selama 10 tahun ini. Kupikir tulisan ini tidak begitu penting, namun semoga bisa memberikan jawaban atas pertanyaan kalian mengapa jilbab lebar saya berubah menjadi selembar kerudung saja? *psst memangnya sepenting apakah itu bagi hidupmu? Jika tidak penting, tidak usah dilanjutkan membacanya ;)
Jika bisa memilih dan menghapus fase dalam hidup, saya ingin sekali menghapus fase ketika saya saat berusia 16-18 tahun. Fase ketika saya selalu merasa paling benar dan belum tahu yang namanya mengkritisi diri sendiri. Pokoknya ketika belajar satu hal, baru selesai baca satu buku, sudah itulah yang paling benar, saya buru-buru mempraktikkannya. Masa-masa itu saya sedang senang-senangnya belajar agama Islam. Saya bersekolah di sekolah negeri, bukan pesantren. Namun justru itu yang membuat saya bertanya mengenai banyak hal. Saya ingin “mencari sendiri” bukan beragama hanya karena orang tua ku kebetul…

Tentang Buku Sihir Perempuan

Saya tidak menyukai segala sesuatu yang berbau horor. Awalnya karena alasan takut. Terakhir saya membaca novel horor/misteri saat SMA. Itupun karena tidak ada pilihan lain. Di kampung saya saat itu toko buku hanya ada 1 yang menjual novel, itu pun hanya dua jenis novel : horor/misteri atau roman "porno". Ketika membaca novel horor saya selalu membayangkannya sebelum tidur, berandai-andai sampai susah tidur, diakhiri dengan mimpi buruk.
Namun kemudian saya menyadari, ketakutan itu hanya rekayasa.
Suatu hari akhirnya saya memberanikan diri membaca Kumpulan Budak Setan. Hanya karena ada nama Eka Kurniawan. Saya selalu merasa beruntung saat maba kami disambut dengan prosesi penerimaan mahasiswa baru oleh senior yang menghadirkan Eka Kurniawan beserta istrinya sebagai pembicara diskusi. Dari situ saya senang membaca karya-karyanya.
Dari Kumpulan Budak Setan-lah, saya kemudian jatuh cinta pada karya-karya Intan Paramadhita. Dan ketagihan ingin terus membaca tulisannya.
Tulisannya mem…

Tentang The Paps dan Tiket Trip Keliling Dunia

Sama seperti sahabat saya Aan, sebagai anak desa yang baru bisa mengakses buku-musik-film yang bagus saat pindah ke kota untuk berkuliah, saya juga menyimpan dendam masa kecil kepada pemerintah yang melaksanakan pembangunan tak merata sehingga kami tidak bisa mengakses tiga hal penting tersebut. Tidak ada perpustakaan, toko kaset, apalagi bioskop di kampung kami. Saya membalas dendam dengan cara meluangkan waktu sebanyak mungkin untuk menikmati tiga hal tersebut.
Saya senang menikmati segala jenis genre buku-musik-film. Bagi saya, penting untuk berusaha menyeimbangkan segalanya. Karena berlebih mengenai sesuatu kadang membuat saya menjadi tidak waras. Namun jika ingin membanding-bandingkan, tentu saya punya kecenderungan. Khusus untuk musik, saat tahu ada genre musik asik bernama dub, saya langsung jatuh cinta, membuat saya penasaran sama Jamaika. Saya senang membayangkan bagaimana suasana masyarakat di sana saat musik dub muncul? Apa yang mereka pikirkan sehingga bisa mengkombinasi…

Tentang Lady Fast #1

*Tulisan ini untuk memenuhi permintaan Thanks Zine edisi 6 yang bahkan Lady Fast 2 sudah berlalu berbulan-bulan, zine nya belum sempat cetak-cetak hahaha... 

Saya tidak ingat kapan persisnya, tapi saya bergabung dalam grup obrolan Kolektif Betina melalui salah satu media sosial, sekitar 2 bulan sebelum ada acara Lady Fast diadakan. Saya senang karena selama ini saya sudah mengenal beberapa dari perempuan yang ada di dalam grup, sehingga saya tidak perlu canggung atau malu. Grup ini selalu hangat dengan obrolan segala macam mulai yang serius sampai gosip yang tidak penting tapi seru. Nyaris selalu ada bahan yang diobrolkan, ya bisa kalian bayangkan ada sekitar 40 orang yang tergabung, tentu selalu ramai.
Apa yang menyatukan kami? Kami memang sudah intens berkomunikasi antara satu dengan yang lain sejak lama dan berjejaring. Kami saling berbagi banyak hal meski latar belakang kami berbeda-beda. Maka dari itu muncullah ide membuat Lady Fast. Ya meski saya terhitung belakangan bergabung ta…

Tentang Perjalanan ke Jambi

*Tulisan ini untuk memenuhi permintaan Thanks Zine. Sudah pernah diterbitkan tapi saya lupa edisi berapa hehehe...
Mari kita mulai cerita tentang perjalanan ini dengan latar saya sebagai orang yang tidak banyak tahu soal dunia underground. Saya hanya senang memperbanyak teman, seperti kata Spongebob “teman adalah kekuatan”. Semakin banyak teman saya merasa semakin kuat untuk hidup di dunia yang ukh… katanya sedang tidak baik-baik saja, namun semakin hari saya justru merasa semakin hidup, mungkin ya… karena banyak teman, entahlah.
                Bulan Januari 2015 kemarin saya diajak teman lama membantu pekerjaannya menjadi fasilitator daur ulang di Jambi. Yup! Sumatra. Saya bahkan tidak pernah membayangkan sampai ke sana.
                Beruntung saya bertemu Candra di sana. Saya dikenalkan dengan kekasihnya, Shiela. Lalu Shiela mengajak saya ke Grindsick, berkenalan dengan banyak teman baru. Dan yang lumayan bikin kaget, anak metal dan punk ada di sana, satu tongkrongan. Mungkin ini h…