Senin, 12 Juni 2017

Tentang Buku Dinamika Kelas Dalam Perubahan Agraria

Saya tidak begitu mengerti penyebab kesengsaraan yang selalu dikeluhkan banyak petani dalam berbagai aspek. Sampai suatu hari saya membaca buku berjudul Dinamika Kelas Dalam Perubahan Agraria. Buku yang ditulis oleh Henry Bernstein ini benar-benar membuka  pikiranku pada banyak hal mengenai isu-isu pertanian.

                Henry menyambut pembaca dengan penjelasan sejarah panjang perubahan agraria. Untuk memahami perubahan agraria dalam dunia modern, analisisnya berpusat pada kapitalisme serta perkembangannya. Kapitalisme yang ia maksud adalah sistem produksi dan reproduksi yang didasarkan pada relasi sosial antara kapital dan buruh.

Apa yang dialami oleh para petani saat ini tentu tidak terjadi begitu saja. Asal mula ekonomi pangan global kontemporer bisa ditelusuri dari serangkaian perubahan revolusioner yang terjadi selama sekian milenium, sekian abad, dan sekarang terhenti dalam hitungan dekade. Perubahan kelas petani terjadi sejak masa kolonialisme yang kemudian membentuk kapitalisme ditandai sejak Revolusi Industri pada abad ke-18, masa feodalisme juga tak luput disebutkan.

Istilah “petani” yang dulunya merujuk pada usaha tani rumah tangga yang dikelola untuk reproduksi sederhana, terutama untuk menyediakan pangan sendiri (subsistensi). Seiring perkembangan kapitalisme, karakter social usaha tani skala kecil berubah. Jika dulunya petani dicirikan dengan solidaritas, saling mendukung secara timbal balik, egaliterianisme, serta keterikatan pada nilai-nilai kehidupan yang berbasis rumah tangga, komunitas, kekerabatan, dan tempat kini berubah.

Petani kemudian menjadi produsen komoditas berskala kecil. Mereka harus memproduksi kebutuhan hidup mereka dengan cara bergabung dalam struktur pembagian kerja yang lebih luas dan terintegrasi ke pasar. Lalu produsen komoditas berskala kecil ini tunduk pada proses diferensiasi kelas, yakni kecenderungan pemilahan produsen komoditas skala kecil menjadi kelas kapital dan kelas pekerja. Munculnya diferensiasi sangat dipengaruhi relasi-relasi gender dan dinamika relasi-relasi itu. Ketika rumah tangga petani sudah tercebur dalam relasi-relasi komoditas kapitalis, mereka pun pasti tunduk pada dinamika dan keterpaksaan yang ditimbulkan dari komodifikasi.

Untuk mempermudah pemahaman ini saya mengambil contoh apa yang terjadi di Dusun Puncak, Desa Gunung Perak, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Dulunya petani dusun ini adalah petani subsisten, mereka menanam berbagai jenis tanaman seperti padi, kentang, wortel, kopi, sampai tembakau untuk kebutuhan konsumsi sendiri. Sampai pada tahun 1990, seorang petani datang dari Jawa mengajarkan pola bercocok tanam sayur baru dengan penggunaaan input kimia serta pembagian kerja. Dulunya petani di sana memuliakan tanah dengan membiarkan tanah dipenuhi rumput liar setelah panen lalu membakarnya sebelum kembali menanam, kini yang mereka tahu adalah menggunakan pupuk untuk pemuliaan tanah. Ada banyak yang berubah, termasuk kebergantungan pada pasar namun tidak memiliki kontrol atas harga pasar.

Dari masyarakat subsisten yang mereproduksi diri pada tingkat konsumsi yang konstan  berubah menjadi masyarakat agraris yang terbagi atas kelas. Kelas-kelas dominan atau penguasa pada masyarakat agraris yang terbagi atas kelas terdiri dari dinasti bangsawan, aristokrat sipil dan militer, birokrat sipil dan agama, serta kelompok pedagang. Kelas-kelas penguasa tersebut berupaya mengatur aktivitas ekonomi (upaya untuk menghakmiliki kerja lebih) dan kadang kala memberikan rangsangan kegiatan ekonomi misalnya dengan pembangunan dan perawatan bangunan irigasi. Mereka tidak berusaha secara sistematik untuk “menyimpan” dan menginvestasikan kembali produk lebih yang dihakmiliki untuk pembangunan kapasitas masyarakat mereka. Justru mereka disibukkan dengan usaha untuk menguasai tanah dan buruh sebagai sumber kekayaan, kekuasaan, kejayaan agar mampu mengonsumsi kemewahan. Eksploitasi tenaga kerja yang digerakkan oleh kebutuhan untuk memperluas skala produksi dan meningkatkan produktivitas demi menciptakan laba atau akumulasi adalah karakteristik dalam masyarakat kategori terakhir yaitu kapitalisme.

Hal ini juga terjadi di Dusun Puncak, kaum petani kapitalis yang baru tumbuh itu cenderung menggunakan buruh upahan untuk menambal dan menggunakan atau menggantikan tenaga kerja. Banyak masyarakat yang memilih menjadi buruh di kebun sayur dan meninggalkan pekerjaan sebelumnya seperti pandai besi karena menganggap menjadi buruh kebun lebih mudah dan mereka bisa segera mengumpulkan uang membeli tanah. Sedangkan yang tak mampu membeli tanah, mereka mengalihfungsikan sawah menjadi kebun sayur dengan anggapan bahwa dengan keuntungan besar dari sayuran mereka bisa membeli beras. Siapa yang tahu jika kemudian semua petani melakukan hal yang sama dan beras semakin langka, tentu harganya semakin mahal dan tak terjangkau lagi. Bersamaan dengan itu mereka mulai bergantung pada alat-alat produksi seperti tanah, peralatan, benih, dan ternak. 

Kecenderungan petani kapitalis adalah menyederhanakan, menstandarkan, dan mempercepat proses alamiah sebisa mungkin. Inovasi teknologi dalam pertanian diarahkan bukan hanya oleh industri input pertanian pada khususnya, melainkan juga oleh juga oleh industru pangan hasil pertanian agar menghasilkan produk bahan baku dari tanaman maupun hewan secara lebih terprediksi, lebih besar, dan lebih cepat matang. Baik melalui perlakuan atas tanah (pemupukan), pembasmian gulma (herbisida) dan hama (pestisida), pengelolaan iklim (irigasi dan rumah kaca), pemuliaan sifat tanaman (rekayasa genetik, pematangan buatan), maupun pengendalian perkembangan ternak (pakan konsentrat, perangsang pertumbuhan hormone, dan rekayasa genetik).

Bagi para pengkritik pertanian kapitalis modern, inovasi-inovasi semacam itu menunjukkan kian intensifnya “industrialisasi” pertanian dengan kerugian ekologis yang semakin parah dan semakin besar. Tak ketinggalan kerugian kesehatan sebagai dampak dari bagaimana pangan ditanam dan diproses serta semakin rendahnya nilai gizi dan semakin tingginya tingkat racun pada banyak makanan.

Henry banyak membahas mengenai relasi dan dinamika komodifikasi, produksi komoditas berskala kecil, diferensiasi, kelas-kelas tenaga kerja, dan dalam kapitalisme dalam buku ini. Pada masa kolonialisme petani kecil terkurung di dalam produksi komoditas oleh paksaan samar dari kekuatan-kekuatan ekonomi, komodifikasi atas subsistensi mereka. Lalu era kapitalisme membentuk kelas-kelas kapital yang dibedakan berdasarkan kepentingan dan strategi yang dimiliki dan dijalankan oleh kapital pada aktivitas dan sektor tertentu pada berbagai skala, mulai dari lokal hingga internasional. Keberagaman kelas-kelas kapital dan kelas-kelas pekerja di pedesaan serta bagaimana keberagaman itu dibentuk oleh berbagai faktor (determinasi) yang berasal dari luar pedesaan, di luar lahan tani, dan di luar pertanian. Petani kecil adalah satu kelas tunggal dan terbentuk sebagai sebuah kelas dengan berbagai relasi sosial dengan kapital.


Kompleksitas analitis dinamika kelas dalam proses perubahan agrarian yang disajikan oleh Henry merupakan sebuah upaya untuk menggeluti sejumlah kompleksitas dunia nyata kapitalisme kontemporer. Dunia nyata kapitalisme itu terbentang mulai dari bursa berjangka di Chicago dan markas korporasi agribisnis hingga diferensiasi kelas di zona-zona “kapitalisme petani kecil” yang terus berubah dan berkembang, sampai ke pertarungan para petani dan pekerja miskin. Pesan terakhir dalam buku ini adalah dalam sebuah dunia kapitalis, usaha memahami dinamika kelas harus selalu menjadi titik berangkat dan merupakan elemen sentral dalam analisis tersebut.