Langsung ke konten utama

Postingan

8 Hal Tentang Saya Sebagai Pustakawan

1. Pertama kali saya tertarik dengan buku melalui mama saya. Saat kecil saya ingat jelas Mama ku pernah bilang "suatu hari kita bikin perpustakaan mini di rumah" sambil merapikan beberapa buah buku di lemari kecil yang berada di samping tempat tidur kami. 2. Saya bersekolah di SDN Bontorannu 2 yang kala itu tidak memiliki perpustakaan. Suatu hari ketika ikut pelatihan Pramuka, saya menemukan banyak buku cerita tergeletak begitu saja di dalam gudang ketika saya diminta mengambil tongkat untuk pelajaran membuat tandu. Sejak saat itu saya selalu mengajukan diri menjadi pemimpin regu agar bisa mengakses kunci gudang dan bisa berlama-lama membaca buku yang disimpan begitu saja. 3. Saat SMP saya senang mengurus majalah dinding karena sebelum pindah dari SMPN 1 Makassar ke SMPN 2 Pitumpanua saya banyak menghabiskan uang jajan saya membeli majalah Fantasi. Beberapa isi majalah itu saya gunting dan tempel di mading sekolah yang baru. Letak mading kala itu berada persis di depan perp…
Postingan terbaru

Mantra #2

Saya pernah membaca ini dan menjadikannya mantra sumber kekuatan.

"Aku hanya tak ingin mati sebagai orang yang tak berani memilih dan menjalani takdirnya. Semakin aku menjalani hidupku, aku semakin tahu bahwa aku berada di jalan yang aku impikan selama ini, pada malam-malam penuh kehangatan dan siang-siang penuh rasa dingin."

Pilihan Mengurangi Makan Produk Hewan Sama Seperti Pilihan Mengurangi G* Sintetis Karena G* Asli Memang Lebih Enak!

(Untuk Pena Hitam Fanzine Edisi 7)

Tulisan ini bukan untuk menganjurkan kamu menjadi vegetarian. Percayalah!

Cerita ini dimulai dari saat saya berangkat ke kota dari desa tanah kelahiran dengan sedikit pertanyaan yang sering membuat saya marah tapi entah pada siapa, pertanyaan itu seperti: kenapa saya tidak boleh nongkrong dengan teman-teman lelaki di malam hari? Kenapa saya tidak boleh begadang? Hal-hal sederhana.
Meski hidup di desa, saya dibesarkan dengan cara modern dan alhasil saya tumbuh menjadi generasi yang malas, suka mencari-cari alasan dan pembenaran, mau serba praktis, tidak suka bekerja secara kolektif (waktu remaja saya paling tidak suka jika diminta ke tetangga yang akan menikah dan membantu masak-masak), dan narsis: generasi millenial. Saya tidak menyangkal itu tapi untuk mencari jawaban atas pertanyaan, saya berusaha untuk tidak malas.
Tiba di kota, bukannya langsung menemukan jawaban, yang ada kemarahan saya semakin menjadi-jadi karena ada banyak hal yang membuat saya be…

Bagaimana rasanya berlebaran setelah tidak menggunakan jilbab?

Tulisan ini lama tersimpan sebagai draft, mestinya kuselesaikan beberapa hari setelah lebaran kemarin.
Baik. Jawabannya adalah melegakan sekaligus melelahkan. Mestinya keputusan ini kulakukan beberapa bulan sejak meninggalkan pengajian saat mahasiswa baru, tapi waktu itu saya terlalu penakut. Saya selalu khawatir terhadap apa yang orang lain pikirkan mengenai saya. Siapa yang ingin dianggap buruk? Saya tidak ingin, saat itu.
Melegakan karena akhirnya saya berani melawan ketakutan-ketakutan itu. Saya berusaha tidak peduli apapun yang orang lain pikirkan tentang saya.
Intinya saya hanya ingin mengurangi kamuflase dalam menjalani kehidupanku. Saya memiliki kehendak bebas. Dan persoalan agama? Saya sangat ingin jujur bahwa seandainya saya tidak berada di negara yang mewajibkan memeluk satu agama, saya ingin memilih tidak beragama. Kenapa? Karena pada akhirnya saya menyadari bahwa agama adalah salah satu tatanan khayalan yang bertujuan untuk melanggengkan suatu kekuasaan imperium, sejarah…

FANTASI NANCY (INGIN KURAIH TELINGAMU)

Seseorang pernah mengatakan lebih mudah hidup dengan fantasi karena fantasi memberi makna pada penderitaan. Maka dari itu Nancy memilih mengurung dirinya di sebuah perpustakaan sebab ia merasa tidak membutuhkan apa-apa lagi selain fantasi. Sejak usia 20 tahun Nancy memilih karir sebagai pustakawan agar ia bisa selalu dikelilingi oleh kisah-kisah yang tak akan ada habisnya dan tak perlu bertemu manusia lagi.
Perpustakaan tempat Nancy bekerja, melayani peminjaman buku hingga pukul 10 malam untuk mahasiswa. Suatu malam Nancy sedang menghitung jumlah buku yang belum dikembalikan bulan itu ketika seorang lelaki tiba-tiba datang menyapa.
“Saya sedang mencari buku tentang seni.” “Seni sangat luas kak, beritahu lebih detail agar saya lebih mudah mencarinya.” “Saya sebenarnya juga masih bingung, saya sedang buntu mengerjakan tugas akhirku untuk membuat sebuah lagu. Dosen pembimbing menantang saya menulis lagu-lagu berbahasa Indonesia dan saya kebingungan memulainya dari mana.” “Oh, kalau begi…

Mantra #1

Personalitas, harapan, dan hubungan-hubungan saya tidak pernah diam, dan mungkin bertransformasi sepenuhnya dari tahun ke tahun dan dari dekade ke dekade. Namun, di bawah itu semua, saya tetap orang yang sama dari lahir sampai mati-dan mudah-mudahan sampai sesudah mati juga.

Nakal Boleh, Bodoh Jangan! (5 buku yang paling kurekomendasikan untuk dibaca)

(Kamu hanya butuh waktu membaca tulisan ini sekitar 3,7 menit jika kecepatan membacamu 300 kata per menit)
“everything is connected to everything else” -Kalimat di ujung video klip Failed Imaginer-nya Propagandhi-
Pernah tidak kamu berpikir seperti “ah kok karya-karya generasi sebelum saya keren-keren semua?” Entah itu saat mendengar musik, menonton film, melihat karya seni, atau membaca karya sastra. Beberapa tahun lalu saya selalu memikirkan itu. Merasa kesal sendiri karena rasanya tidak ada sisa untuk generasi belakangan seperti saya untuk membuat sesuatu yang baru, pokoknya semua yang keren-keren di dunia ini sudah pernah diciptakan! Kita hanya kebagian sesuatu bernama daur ulang pikirku saat itu.
Hal itu membuat saya selalu bertanya-tanya, kalau begitu sebaiknya apa yang harus kuperbuat? Jawaban utama yang kutemukan adalah : membaca berbagai hal dan berdiskusi sesering mungkin. Namun apa yang harus saya baca? Jujur meski 10 tahun bekerja sebagai pustakawan, sebenarnya saya tidak ra…