Langsung ke konten utama

Postingan

Bukan Tentang Rina Nose Yang Memutuskan Melepas Hijab

Saya menulis catatan ini setelah lama berpikir mengenai komentar mama dan tanteku di facebook kemarin sore atas tulisan Lailatul Fitriyah yang saya share. Keduanya berkomentar bahwa mereka tidak paham apa yang dituliskan Laila, bahasanya tingkat tinggi. Tulisan itu berjudul : Obsesi Terhadap Hijab adalah Produk Westernisasi.
Dalam keluarga, saya adalah cucu pertama yang berkuliah di kota Makassar, saya baru menyadari percuma jika saya merasa terdukasi dengan cukup baik namun tidak bisa menyampaikan apa yang saya dapatkan kepada keluarga saya.
Well, setelah memutuskan untuk membuka jilbab, dengan pertimbangan selama beberapa tahun, saya pikir dengan alasan “Ini hak saya, dosa dan amal adalah urusan saya dengan Tuhan” sudah cukup untuk menjawab pertanyaan orang-orang di sekelilingku terutama keluarga. Saya juga sudah pernah menuliskan ceritanya di sini. Tapi ternyata tidak. Mereka masih bertanya-tanya, mulai berasumsi macam-macam, ada yang bilang saya terlalu stress.
Mungkin ada benar…
Postingan terbaru

Tentang Frasa Drop the Bass Line dan nostalgia EDM

Saat saya berulang tahun kemarin, diantara semua ucapan selamat, Sami yang paling berkesan menurutku. Dia bilang begini: “Selamat Ultah Mba Eka, Jaya Selalu, Drop the Bass Line Selalu” Lalu dilanjutkan dengan obrolan panjang kami tentang musik dub, seperti biasa.

Oke. Tidak ada bahagia selalu, sehat selalu. Yang ada malah ketemu sama "Jalasveva Jayadub" yang membuat mood ku sangat ceria seharian kemarin :D

Well, saya memang tidak begitu lama mengenal Sami, baru beberapa minggu terakhir sejak diperkenalkan oleh Dindie. Tapi saya sudah tahu Roadblock DubCollective sejak beberapa tahun lalu dan Sami adalah bagian dari itu.

Saya sering mendengar istilah “Drop the Bass” dan sering menemukannya menjadi meme yang beredar di dunia maya. Saya pernah mencari tahu tentang asal-usul istilah ini dan beruntung ada banyak artikel yang membahasnya. Bahwa "Drop the Bass" menjadi slogan yang terkait dengan penurunan, atau titik klimaks pada trek musik elektronik yang ditandai dengan i…

Tentang Pessi, Banana Wine, dan Beberapa Musik Dub Favoritnya

Catatan Setelah Melewati Tahun Pertama Fase The Saturn Return

Meski jaman now sudah canggih, tapi saya masih percaya tentang kekuatan magis kata-kata harapan yang jika dituliskan di atas kertas, bisa menjadi kenyataan. Saya percaya itu sejak mengambil jurusan Bahasa saat SMA. Sampai sekarang, tiap kali punya harapan, buru-buru saya mencatat-nya dalam buku catatan harian.

Saat berusia ke-27 tahun lalu, saya memilih satu kata untuk mewakili harapan saya selama satu tahun ke depan : Astonishing. Karena sejak lama saya mendengar konon usia 27 adalah usia keramat, banyak orang yang bunuh diri di usia ini. Dan benar, satu tahun ini harapan saya terwujud, hidup saya benar-benar "astonishing" layaknya "rollercoaster". Mulai dari berurusan dengan orang-orang paling menyebalkan berseragam, sampai orang-orang paling menyenangkan.

Hari ini saya berusia 28 tahun dan sangat berbahagia telah melewati satu fase kehidupan lagi. Kali ini saya memilih kata: Calm. Sebagai harapan selama tahun depan karena capek juga naik rollercoaste…

Tentang Abracadubra

Berkat obrolan panjang semalam bersama @dindiepop dan @yuliussamiaji tentang dub, saya jadi ingat sama projekan iseng Abracadubra ini. 

Zine ini awalnya ingin kujadikan zine khusus memuat tulisan-tulisan saya tentang Dub. Sejak tahun 2010 saya benar-benar menyukai genre musik itu. Tapi karena saat itu saya merasa tidak punya banyak teman untuk ngobrol soal Dub, tidak punya banyak referensi, akhirnya nama Abracadubra kujadikan zine tentang hasil penelitian saya saat mengerjakan tugas akhir kuliah mengenai naskah Bugis kuno "lontara" yang berisi ramuan obat-obat tradisional. Kupikir cukup nyambung juga mengingat kata "abracadabra" adalah mantra tertua di dunia. Zine kedua tentang khasiat semangka yang kubuat saat bekerja di Desa Purwodadi, Jambi. Zine ketiga tentang khasiat pisang saat saya penelitian di Desa Soga, Soppeng dan tinggal di rumah petani yang memiliki kebun pisang aneka macam.

Hari ini saya begitu senang karena berkat mereka, saya bersemangat…

Tentang Keinginan Nona Merasa Nyaman dan Aman di Lantai Dansa

Sejak kecil saya senang menari.
Kupikir dari sabang sampai merauke kita punya tradisi menari masing-masing sejak lama.
Namun semakin beranjak remaja, sebagai anak perempuan, saya mulai diwanti-wanti menjaga tubuh. Tidak boleh ini itu demi "menjaga diri". Terlebih menari, harus dikurangi. Menari, berdansa, berjoget, apapun pilihan katanya, itu adalah aktivitas menyenangkan. Dan sejak kecil saya selalu membayangkan betapa menyenangkannya berada di tengah dancefloor.
Tapi tidak semudah itu untuk merasakan nyamannya berdansa bagi anak perempuan. Saat beranjak dewasa saya pernah mendengar petuah seperti ini "Jangan ke diskotik, laki-laki menganggap perempuan yang ke sana adalah perempuan tidak benar, jadi mereka seenaknya akan meraba-raba tubuhmu." Dan saya mendengar ketika pelecehan seksual terjadi di lantai dansa banyak orang yang akan menyalahkan korban "Ya kalau tidak mau disentuh jangan bergabung." Tapi kupikir kita semua bisa membedakan mana sentuhan yang di…