Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Tentang DUB

Tentang Frasa Drop the Bass Line dan nostalgia EDM

Saat saya berulang tahun kemarin, diantara semua ucapan selamat, Sami yang paling berkesan menurutku. Dia bilang begini: “Selamat Ultah Mba Eka, Jaya Selalu, Drop the Bass Line Selalu” Lalu dilanjutkan dengan obrolan panjang kami tentang musik dub, seperti biasa. Oke. Tidak ada bahagia selalu, sehat selalu. Yang ada malah ketemu sama "Jalasveva Jayadub" yang membuat mood ku sangat ceria seharian kemarin :D Well, saya memang tidak begitu lama mengenal Sami, baru beberapa minggu terakhir sejak diperkenalkan oleh Dindie. Tapi saya sudah tahu Roadblock DubCollective sejak beberapa tahun lalu dan Sami adalah bagian dari itu. Saya sering mendengar istilah “Drop the Bass” dan sering menemukannya menjadi meme yang beredar di dunia maya. Saya pernah mencari tahu tentang asal-usul istilah ini dan beruntung ada banyak artikel yang membahasnya. Bahwa "Drop the Bass" menjadi slogan yang terkait dengan penurunan, atau titik klimaks pada trek musik elektro...

Tentang Pessi, Banana Wine, dan Beberapa Musik Dub Favoritnya

J ika kamu sudah pernah membaca tulisanku yang berjudul "Tentang The Paps dan Tiket Trip Keliling Dunia" , pasti kamu juga sudah tahu bahwa pernah ada masa ketika saya sangat penasaran dengan Jamaika. Untuk menjawab rasa penasaran itu, saya meluangkan banyak waktu untuk berseluncur mencari tahu, termasuk menonton berbagai video para vlogger Jamaika di YouTube untuk mengetahui bagaimana sih suasana kota Kingston itu? Pada masa itu pula saya selalu berharap ada teman couchsurfing yang datang dari Jamaika berkunjung ke Makassar. Tapi sampai saat ini belum pernah ada yang mengirimkan saya request.   Kemudian Januari 2017 lalu saya kedatangan seorang teman dari Jerman, sebenarnya dia asli Finlandia namun lebih memilih tinggal di Jerman. Dia adalah teman serumah sahabat kami, Oliver. Namanya Pessi, saat itu ia sedang berkuliah singkat belajar Bahasa Indonesia di Jogja dan sedang liburan, ia memilih Makassar untuk destinasi selama liburannya, berkat rekomendasi Oliver ...

Tentang Abracadubra

Berkat obrolan panjang semalam bersama @dindiepop dan @yuliussamiaji tentang dub, saya jadi ingat sama projekan iseng Abracadubra ini.    Zine ini awalnya ingin kujadikan zine khusus memuat tulisan-tulisan saya tentang Dub. Sejak tahun 2010 saya benar-benar menyukai genre musik itu. Tapi karena saat itu saya merasa tidak punya banyak teman untuk ngobrol soal Dub, tidak punya banyak referensi, akhirnya nama Abracadubra kujadikan zine tentang hasil penelitian saya saat mengerjakan tugas akhir kuliah mengenai naskah Bugis kuno "lontara" yang berisi ramuan obat-obat tradisional. Kupikir cukup nyambung juga mengingat kata "abracadabra" adalah mantra tertua di dunia. Zine kedua tentang khasiat semangka yang kubuat saat bekerja di Desa Purwodadi, Jambi. Zine ketiga tentang khasiat pisang saat saya penelitian di Desa Soga, Soppeng dan tinggal di rumah petani yang memiliki kebun pisang aneka macam. Hari ini saya begitu senang karena berkat mereka, saya be...

Tentang Keinginan Nona Merasa Nyaman dan Aman di Lantai Dansa

Sejak kecil saya senang menari. Kupikir dari sabang sampai merauke kita punya tradisi menari masing-masing sejak lama. Namun semakin beranjak remaja, sebagai anak perempuan, saya mulai diwanti-wanti menjaga tubuh. Tidak boleh ini itu demi "menjaga diri". Terlebih menari, harus dikurangi. Menari, berdansa, berjoget, apapun pilihan katanya, itu adalah aktivitas menyenangkan. Dan sejak kecil saya selalu membayangkan betapa menyenangkannya berada di tengah dancefloor. Tapi tidak semudah itu untuk merasakan nyamannya berdansa bagi anak perempuan. Saat beranjak dewasa saya pernah mendengar petuah seperti ini "Jangan ke diskotik, laki-laki menganggap perempuan yang ke sana adalah perempuan tidak benar, jadi mereka seenaknya akan meraba-raba tubuhmu." Dan saya mendengar ketika pelecehan seksual terjadi di lantai dansa banyak orang yang akan menyalahkan korban "Ya kalau tidak mau disentuh jangan bergabung." Tapi kupikir kita semua bisa m...

Tentang The Paps dan Tiket Trip Keliling Dunia

Album kedua " The Paps " Sama seperti sahabat saya Aan, sebagai anak desa yang baru bisa mengakses buku-musik-film yang bagus saat pindah ke kota untuk berkuliah, saya juga menyimpan dendam masa kecil kepada pemerintah yang melaksanakan pembangunan tak merata sehingga kami tidak bisa mengakses tiga hal penting tersebut. Tidak ada perpustakaan, toko kaset, apalagi bioskop di kampung kami. Saya membalas dendam dengan cara meluangkan waktu sebanyak mungkin untuk menikmati tiga hal tersebut. Saya senang menikmati segala jenis genre buku-musik-film. Bagi saya, penting untuk berusaha menyeimbangkan segalanya. Karena berlebih mengenai sesuatu kadang membuat saya menjadi tidak waras. Namun jika ingin membanding-bandingkan, tentu saya punya kecenderungan. Khusus untuk musik, saat tahu ada genre musik asik bernama dub, saya langsung jatuh cinta, membuat saya penasaran sama Jamaika. Saya senang membayangkan bagaimana suasana masyarakat di sana saat musik dub muncu...