Langsung ke konten utama

Tentang Katakerja yang Berusia Satu Tahun Kini

… …
I at twenty four, was insecure to whatever it takes
Come on now, wake up wake up
Shut up shut up, it’s time smell the coffe
… …

Smell The Coffee – The Cranberries



Sejak kecil saya senang mendengar lagu-lagu The Cranberries, mungkin karena itu pula saya merasa lirik lagu-lagunya menjadi penting dan mempengaruhi hidupku. Termasuk lagu di atas, saya menjadi sangat bersemangat ingin segera merasakan bagaimana saat saya berusia 24 tahun saat SMA. Apakah juga merasakan hal yang sama seperti pada lagu itu?
Saya kemudian sampai pada usia yang kuidamkan itu, setahun lalu. Apa yang terjadi?

Di usia 24 tahun saya baru bisa menyelesaikan kuliah, menjadi sarjana sastra. Di usia 24 tahun seorang teman yang sudah lama tak kutemui tiba-tiba mengajak saya bergabung mewujudkan idenya : katakerja. Inilah yang terjadi.

Aan mengajak saya mampir dan memajang beberapa karya kriya saya di sebuah rumah sekaligus kantor AcSI. Tentu langsung ku-iyakan. Ini kesempatan saya bisa bernapas lega setelah selesai kuliah, tidak perlu melewati fase pengangguran. Dan benar, setelah bergabung di katakerja saya merasa pintuku untuk berpetualang dan semakin hidup terbuka lebar. Di katakerja saya menemukan banyak teman baru, yang kemudian menjadi keluarga baru.

Ada 24 orang yang aktif sebagai pustakawan relawan di katakerja termasuk saya. Mulai dari nama yang huruf depannya A ada Aan, Accang, Ais, Agung, Aji, Ale Said, Ale, Arkil, dan Azis. Lalu menyusul alphabet lain ada Icha, Illank, Ibe, Kiky, Madi, Mawar, Mucha, Mul, Ocha, Ono, Randie, Viny, Weda, dan Weni.

Sebab hidup memaksa kita untuk terus belajar. Saya serasa lanjut kuliah di universitas baru, yakni katakerja.

Hal yang menjadikan katakerja bagi saya seperti sebuah universitas adalah saya bisa mengandalkan satu per satu dari mereka hal yang ingin kutanyakan. Misalnya saya ingin bertanya seputar kesehatan dan obat tradisional, ada Aji dan Azis yang bisa kutanyai kapan saja. Berbicara soal musik saya bisa bertanya kepada Ais, Ale Said, Ale Hariwibowo, atau Illank. Berbicara soal kepenulisan dan sastra ada Aan, Accang, Arkil, dan Ibe. Aan juga selalu memberikan ide kreatif soal mendekor ruangan katakerja. Tentang dunia penelitian saya mengandalkan bertanya kepada Agung, Mul, dan Weda. Jika ingin memperbaiki bahasa inggris-ku yang payah ini saya mencari Ocha. Bertanya tentang dunia radio ada Mawar. Kalau soal jahit menjahit pakaian serahkan pada Icha. Butuh teman yang rajin dalam banyak hal ada Ono. Teman berkeliaran dan yang selalu peduli sama kucing di katakerja ada Mucha. Weny yang selalu bersemangat jika urusan jalan-jalan ke pasar tradisional. Untuk urusan mengorganisir acara saya selalu berharap banyak pada Viny, Kiky, dan Madi. Dan Randi yang selalu kuandalkan untuk urusan mendesain dan menggambar, jari-jarinya sangat kreatif. Dan masih banyak lagi. Kami saling melengkapi, saling berdiskusi.

Kurang beryukur apa lagi saya atas teman-teman keren ini di katakerja? Saya selalu memimpikan memiliki banyak tangan seperti gurita, bersatu dengan mereka seperti menjadi sebuah gurita. Banyak hal yang kami lakukan bersama. Menangis, marah, tertawa, kelaparan, kekenyangan, sibuk, dan segalanya.

Setiap bulan kami menyusun kalender kegiatan yang kadang kami tak sadar ternyata kami ingin selalu belajar banyak hal. Kami tentu sering kelelahan meski selalu terbayar usai mengadakan satu kegiatan terutama kegiatan menyimak. Semua selalu terbayar saat selesai cuci piring dan kami tertawa bersama. Ah… ada banyak hal yang sangat melekat dan selalu membuat saya bangga pada mereka, pustakawan katakerja. Dan hal yang selalu Aan ingatkan kepada kami, katakerja kita buat untuk belajar, terutama untuk diri kita sendiri. Hingga kini sudah ada banyak kelas yang kami adakan bersama. Siapapun bisa ikut belajar desain, penyiaran, menulis, menggambar, bahasa inggris, aksara lontara, dan mendaur ulang.

Kami sepakat dari awal untuk terbuka satu sama lain. Setiap tanggal 28 kami mengadakan semacam rapat bulanan yang agendanya menyusun kalender bulan berikutnya dan saling menumpahkan curahan hati tentang kemarahan, kekesalan, keresahan masing-masing. Karena dari awal selalu terbuka, membuatku sadar katakerja satu-satunya tempat saya menjadi diri saya yang sebenarnya. Jika ingin melihat bagaimana cerewet dan gilanya saya, datanglah ke katakerja. Saya benar-benar diri saya di sini. Katakerja adalah keluarga.
Bukan hanya dengan para pustakawan. Saya mendapatkan banyak teman baru dari pengunjung katakerja. Saya banyak belajar dari para pengunjung katakerja juga.

Saya tak henti menyukuri berharganya momen usiaku ke 24 bersama mereka, bersama katakerja.

Jika surga tidak ada, perpustakaan katakerja sudah cukup bagi saya. Surga bagi segala informasi yang kutemukan dari buku-buku dan dari para pustakawan yang keren ini.

Selamat ulang tahun katakerja. Terima kasih untuk kalian yang pernah mengisi acara dan kelas di katakerja.
Terima kasih untuk kalian yang pernah berkunjung di katakerja.
Terima kasih untuk segala keceriaan dan kebahagiaan selama satu tahun ini.
Kalian batu dan menggelinding :D

Komentar

  1. bang masih jual buku komik gak? kalo masih jual alamatx dimana ?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Tentang Rina Nose Yang Memutuskan Melepas Hijab

Saya menulis catatan ini setelah lama berpikir mengenai komentar mama dan tanteku di facebook kemarin sore atas tulisan Lailatul Fitriyah yang saya share. Keduanya berkomentar bahwa mereka tidak paham apa yang dituliskan Laila, bahasanya tingkat tinggi. Tulisan itu berjudul : Obsesi Terhadap Hijab adalah Produk Westernisasi.
Dalam keluarga, saya adalah cucu pertama yang berkuliah di kota Makassar, saya baru menyadari percuma jika saya merasa terdukasi dengan cukup baik namun tidak bisa menyampaikan apa yang saya dapatkan kepada keluarga saya.
Well, setelah memutuskan untuk membuka jilbab, dengan pertimbangan selama beberapa tahun, saya pikir dengan alasan “Ini hak saya, dosa dan amal adalah urusan saya dengan Tuhan” sudah cukup untuk menjawab pertanyaan orang-orang di sekelilingku terutama keluarga. Saya juga sudah pernah menuliskan ceritanya di sini. Tapi ternyata tidak. Mereka masih bertanya-tanya, mulai berasumsi macam-macam, ada yang bilang saya terlalu stress.
Mungkin ada benar…

Berburu Putu Cangkiri, Dari Tamalanrea ke Sungai Saddang Baru

Tulisan pertamaku yang dimuat di panyingkul!
reportase tentang jajanan tradisional
selamat membaca...


Selasa, 05-08-2008
Mungkin tak banyak yang tahu saban pagi ada pasar kaget di belakang RS Wahidin Sudirohusodo, Tamalanrea. Di sinilah sejumlah pedagang datang menjajakan kebutuhan bagi pasien maupun penjenguknya. Perlengkapan mandi, daster, pakaian juga makanan buat sarapan.

Para pedagang yang berkumpul membuat pasar kaget di belakang gedung rumah sakit ini adalah penduduk yang dulunya tinggal di kawasan kampus Unhas Tamalanrea. Tiga puluh tahun lalu, mereka bermukim di areal yang kini berdiri gedung Registrasi Unhas. Dengan iming-iming akan diganti uang tanah, mereka terpaksa pindah. Namun sampai saat ini, hanya sebagian ganti rugi. Disepakati kemudian, mereka pindah dengan syarat bisa berjualan di tempat yang sekarang ini dikenal sebagai pasar kaget di belakang rumah sakit.

Di pasar ini, jenis jajanan yang banyak dijumpai di sana adalah kue-kue tradisional. Salah satunya adalah putu cang…

Tentang The Cranberries, Linkin Park, dan Perubahan Gaya Jilbab Saya

Sudah nyaris 10 tahun sejak saya merayakan ulang tahun ke-17 di sekolah. Ada banyak yang terjadi selama 10 tahun ini. Kupikir tulisan ini tidak begitu penting, namun semoga bisa memberikan jawaban atas pertanyaan kalian mengapa jilbab lebar saya berubah menjadi selembar kerudung saja? *psst memangnya sepenting apakah itu bagi hidupmu? Jika tidak penting, tidak usah dilanjutkan membacanya ;)
Jika bisa memilih dan menghapus fase dalam hidup, saya ingin sekali menghapus fase ketika saya saat berusia 16-18 tahun. Fase ketika saya selalu merasa paling benar dan belum tahu yang namanya mengkritisi diri sendiri. Pokoknya ketika belajar satu hal, baru selesai baca satu buku, sudah itulah yang paling benar, saya buru-buru mempraktikkannya. Masa-masa itu saya sedang senang-senangnya belajar agama Islam. Saya bersekolah di sekolah negeri, bukan pesantren. Namun justru itu yang membuat saya bertanya mengenai banyak hal. Saya ingin “mencari sendiri” bukan beragama hanya karena orang tua ku kebetul…