Langsung ke konten utama

Tentang The Cranberries, Linkin Park, dan Perubahan Gaya Jilbab Saya

Sudah nyaris 10 tahun sejak saya merayakan ulang tahun ke-17 di sekolah. Ada banyak yang terjadi selama 10 tahun ini. Kupikir tulisan ini tidak begitu penting, namun semoga bisa memberikan jawaban atas pertanyaan kalian mengapa jilbab lebar saya berubah menjadi selembar kerudung saja? *psst memangnya sepenting apakah itu bagi hidupmu? Jika tidak penting, tidak usah dilanjutkan membacanya ;)

 Jika bisa memilih dan menghapus fase dalam hidup, saya ingin sekali menghapus fase ketika saya saat berusia 16-18 tahun.
Fase ketika saya selalu merasa paling benar dan belum tahu yang namanya mengkritisi diri sendiri. Pokoknya ketika belajar satu hal, baru selesai baca satu buku, sudah itulah yang paling benar, saya buru-buru mempraktikkannya.
Masa-masa itu saya sedang senang-senangnya belajar agama Islam. Saya bersekolah di sekolah negeri, bukan pesantren. Namun justru itu yang membuat saya bertanya mengenai banyak hal. Saya ingin “mencari sendiri” bukan beragama hanya karena orang tua ku kebetulan beragama yang sama. Itu yang kupikirkan saat mulai mencari tahu, di mana sebaiknya menemukan jawabannya.
Mengenai ke “islaman” saya. Ada banyak hal yang kupertanyakan. Dan mendapatkan guru pengajian di luar sekolah yang mau mendengar saya dengan sabar membuat saya seperti menemukan juru selamat bagi diriku sendiri. Saya meng-iyakan semua yang ia katakan. Semua yang ia katakan adalah benar, semua praktek Islam di keluarga saya tidak benar-benar Islam. Banyak bid’ah. Salah. Saya harus melakukan sesuatu untuk mengubahnya. Gerakan shalat saya selama ini salah. Gaya berpakaian saya salah. Mendengarkan musik itu haram. Menatap dan bersentuhan dengan laki-laki bukan mahram itu dosa.
Menjadi seseorang yang merasa paling benar itu, jika kuingat-ingat aduh saya sangat malu. Saya malu karena bukan hanya diri saya sendiri, saya malah mengajak-ajak banyak teman dan adik-adik kelasku untuk ikut pengajian yang kadang diadakan di kamar kosanku. Dan mereka berterima kasih pada saya karena mengajak mereka menuju pada “kebenaran”. Belakangan saat menyadari saya sebenarnya salah, saya mestinya tidak terlalu buru-buru mengajak mereka. Saya jadi malu bertemu mereka. Menolak bergabung jika ada acara reuni karena saya merasa memang sudah berubah. Saya memilih menjauh.
Saya malu karena pernah menganggap yang tidak mengenakan jilbab itu salah, berdosa. Saya malu karena pernah bilang pacaran itu haram belakangan eh saya berpacaran dengan beberapa cowok karena ketika jantung berdegub kencang saat bertemu dengan doi itu ternyata menyenangkan.
Ketika ditanya mengapa berubah? Saya memilih diam. Ketika beberapa dari mereka meminta saya menjelaskan “lalu apa yang kuanggap benar saat ini, beritahu saya” saya juga memilih diam. Saya tidak ingin mengulang kesalahan. Kurasa tidak perlu menjelaskan pembenaran menggebu-gebu kepada mereka. Suatu hari toh mereka akan mengerti, kalaupun tidak, saya sebenarnya tidak lagi peduli.
Ada banyak hal yang terjadi pada diri saya setelah meninggalkan sekolah dan menuju kota Makassar untuk berkuliah. Mulai dari hal menyebalkan, menegangkan, menyeramkan, sampai yang paling menyenangkan.

Juga ada banyak buku yang kubaca, bukannya membuat saya menemukan jawaban, malah membuat pertanyaan di kepala saya semakin menjadi-jadi mengenai kekacauan dunia ini. Saya bertemu banyak orang dan berdiskusi tentang banyak hal. Saya tidak berhenti bertanya, tidak berhenti mendengarkan, tidak berhenti menyimak. Itu yang membuat saya berubah, bahwa kehidupan saya dinamis, tidak di situ-situ saja. Semakin hari semakin banyak hal yang membuat saya berhati-hati menentukan pilihan hidup.
Tentu saya sempat melanjutkan pengajian di kampus. Sampai pada suatu hari, saat maba, seperti kebanyakan ritual penyambutan mahasiswa baru, para senior ingin mengadakan acara. Pengisi acaranya siapa lagi kalau bukan kami para maba. Kami diminta memilih ingin mengambil bagian apa. Harus mengambil bagian. Meski awalnya enggan, namun akhirnya saya memilih menjadi penari, karena saya memang senang menari saat SMP. Saya bergabung pada tim tari tradisional, menggunakan baju adat Bugis Makassar, baju bodo namanya.
Saat murabbiah (senior kampus yang selalu memandu pengajian) tahu bahwa saya bergabung dalam tim tari, saya diceramahi selama beberapa menit. Sendirian. Di pojok mushallah. Dengan nada yang meninggi dia bilang “Menari itu dosa, kamu dengan sengaja memamerkan lekuk-lekuk tubuhmu pada orang lain. Dan asal kamu tahu, nama bajunya saja baju bodo, berarti yang pakai bodoh juga!” Saya tidak menyanggahnya, saya hanya diam terus menerus sambil berpikir. Oke pada bagian “memamerkan lekuk tubuh itu dosa” saat itu saya masih menerima, masuk akal. Tapi untuk alasan “yang memakai baju bodo adalah orang bodoh” saya sangat ingin tertawa. Apakah dia pikir saya masih TK? Alasan seperti itu, mungkin hanya anak kecil yang akan percaya. Di mana letak persamaan “bodo yang dalam bahasa bugis berarti pendek (karena baju ini berlengan pendek)” dengan “bodoh” dalam bahasa Indonesia?
Tapi saya masih tetap ikut pengajian setelahnya. Saya tidak begitu mempermasalahkan kasus baju bodo dan bodoh itu. Sampai beberapa bulan setelahnya. Saya tidak muncul selama beberapa hari, bolos ikut pengajian. Saat itu saya ikut semacam prosesi penerimaan organisasi Islam lainnya. Sebenarnya saya tidak benar-benar ingin ikut, saya hanya tidak enak menolak ajakan kakak kelas saya, yang saat SMA sering memenuhi permintaanku untuk membelikan buku-buku saat ia akan pulang ke kampung.
Di kampung kami saat itu toko buku hanya menyediakan novel roman karya Freddy S dan kawan-kawan serta kisah-kisah horor atau misteri. Setelah mulai ikut pengajian tentu saya tidak boleh membacanya lagi. Selain dosa, kata guru pengajian lebih baik baca Al Quran saja. Padahal saya sudah menamatkan Al Quran beberapa kali lengkap dengan terjemahannya. Siapa yang tidak bosan? Namun demi iming-iming pahala, saya merelakan keasyikan membaca novel tersebut. Meski sesekali saya sembunyi-sembunyi meminjam teenlit adik kelas saya yang sering ke Makassar. Jadi bisalah kalian membayangkan jika ada yang dengan senang hati mengirimkan serta meminjamkan buku-buku, saya sangat berterima kasih pada dia.
Kakak kelasku itu kemudian menjadi pengurus organisasi itu. Saya ikut prosesi penerimaannya hanya karena ingin berterima kasih. Toh kupikir tak ada ruginya, itu juga Islam walaupun berbeda organisasi. Sepulang kuliah saya juga tidak punya banyak kegiatan. Pulang ke kos? Tidak. Saya sedari dulu terbiasa aktif, tidak bisa kosong. Apa yang akan kulakukan di kosan sore hari?
Pada akhirnya murabbi ku tahu saya bolos pengajian karena ikut prosesi itu. Saya kembali diceramahi, di sudut mushallah, sendirian. Saat itu saya sudah hampir naik ke tahap 3 pengajian kami. Untuk maba seperti saya, itu termasuk tahap yang melampaui sebayaku. Saya diceramahi, bahwa organisasi itu begini, begitu, tidak sejalan dengan organisasi mushallah kami. Intinya seperti itu. Saya tidak sanggup lagi. Murabbiku menceramahiku adalah hal wajar, kupikir ya demi kebaikan. Namun seruannya bukan lagi terdengar demi kebaikanku, ia mulai menyerukan kebencian. Saya merasa tidak punya masalah dengan teman-teman baru saya di sana. Saya melihat semua orang sama: manusia.
Sejak saat itu saya tidak lagi muncul di mushallah. Saya tidak ingin membenci. Saya tidak ingin merasa “terpaksa”. Beberapa teman menyarankan untuk mencari murabbi lain. Tapi saat itu saya juga mulai jenuh belajar agama terus menerus.
Di tengah kebingungan saya mau ke mana sepulang kuliah, saya diajak menjadi relawan di sebuah kafe baca. Di sana saya bertemu banyak orang baru yang usianya jauh lebih tua dari saya. Mereka sudah jauh lebih lama melewati masa-masa galau yang saya alami. Dan dari mereka saya belajar untuk kritis. Selalu mempertanyakan kembali apa yang kuanggap sudah benar, jangan sampai terjebak dan menjadi merasa paling benar, lalu meremehkan orang yang kuanggap salah hanya karena tidak sepaham dengan saya. Dan yang menyenangkan karena di sana ada banyak buku yang selama ini hanya kubaca judulnya di kolom referensi buku Majalah Horison di perpustakaan sekolah dulu.
Di saat yang sama juga orang tua saya menjual rumah kami, saya mendapat jatah sebuah laptop dari hasil penjualannya. Laptop itu kugunakan untuk mendownload semua lagu-lagu yang ingin kudengar. Saya tidak lagi begitu peduli mengenai haram atau tidak. Saya benar-benar rindu mendengar musik. Saya ingat saat pertama kali tahu ada yang namanya Youtube, lagu yang paling pertama kucari adalah lagu The Cranberries berjudul Promises.  Saat saya masih SD kupikir video klip-nya sangat mengagumkan, belakangan saya menyadari ada banyak video klip lebih keren ternyata, hihihi...
Kabar itu sampai di telinga teman-teman pengajianku, adik-adik kelas yang dulu kuajak pengajian mulai kecewa. Beberapa meminta penjelasan, mengapa saya berubah. Tapi tetap tidak kupenuhi. Saat itu saya juga masih bimbang. Pertanyaan mulai bermunculan. Tentang lingkungan, tentang politik, tentang ekonomi, semua kekacauan itu membuat saya menunda melanjutkan untuk mencari tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku tentang agama. Saya ingin belajar yang lain dulu.
Namun yang paling kuhargai, salah satu dari mereka. Adik kelas yang paling akrab denganku mengatakan ini “Kamu tidak berubah, hanya kembali seperti dulu, sebelum ikut pengajian.” Dia yang memberikan saya kaset Linkin Park ketika perpisahan sekolah, di saat saya tidak ingin mendengarkan musik lagi. Dia tahu sejak SMP saya suka Linkin Park, tergila-gila pada Joe Hahn dan Chester Bennington. Tapi saya tetap menyimpannya. Itu satu-satunya kaset musik yang saya miliki selama SMA (tapi memang toko kaset juga susah sih pada saat itu). Saya sangat berterima kasih padanya atas itu. Meski sampai saat ini dia juga mungkin masih kecewa. Tapi saya tidak ingin memaksanya menerima perubahan saya. Kalau kupikir seandainya dia tidak pernah memberikan kaset itu, betapa menyedihkannya masa SMA saya karena tidak memiliki kaset musik. Hihihi...
Sudah beberapa tahun saya tidak mengunjungi kampung tempat saya bersekolah. Selain karena merasa tidak enak bertemu teman-teman yang kukecewakan dan tidak mau menerima perubahan saya (lalu bukannya menemui saya secara langsung beberapa dari mereka malah menggosipi saya yang tidak-tidak berdasarkan penilaian sepihak), saya juga masih dendam pada salah satu sahabat saya. Sahabat yang selama sekolah kupercayai untuk mendengar semua cerita-ceritaku, malah melakukan pelecehan secara verbal dan fisik kepada saya. Sampai detik ini saya masih tidak bisa memaafkannya. Lagipula dia tidak pernah datang meminta maaf.
Saya kadang rindu ke sana, sering malah. Mungkin suatu hari saya akan ke sana lagi.  
Lalu jika masih ada yang bertanya mengapa saya berubah? Apa tidak takut dosa atas pilihan-pilihan hidup saya saat ini? Jawabannya adalah sepenting apa itu? Biarkan saya dan Tuhan yang berurusan perihal dosa dan apakah saya pantas masuk surga atau tidak.
Saya mengakui saya tidak lebih baik dari siapapun. Saya tidak sama sekali lebih baik dari yang lain dan tidak akan dan tidak ingin berpura-pura bahwa saya telah menjadi manusia yang lebih baik.
Ngomong-ngomong tentang agama Islam, baru-baru ini saya menonton video di Fanpage FB Indonesia Feminis tantang “Diskusi Kebebasan Dalam Berjilbab”. Jika sedari tadi kamu ingin mencari jawaban mengapa saya berubah, dari jilbab yang lebar sampai hanya kerudung seperti ini, sebaiknya nonton saja video itu. Well,  saya memutuskan merubah gaya berjilbab saya jauh sebelum menonton video ini. Namun diskusi mereka, kurang lebih sama yang kupikirkan selama ini.
Karena Islam abad awal sampai abad pertengahan menghargai dan mendukung perbedaan pendapat bagi umatnya. Perdebatan itulah yang justru memperkaya Islam, mestinya itu yang membuat pikiran kita lebih luas agar bisa hidup secara harmonis, bukan saling membenci.
Mengapa sesama Islam saja saling membenci hanya karena berbeda penafsiran Al Quran?
Beragama itu latihan untuk membuat manusia menjadi lebih baik, bukan untuk berjualan apalagi alat politik. Jadi belajar itu sepanjang waktu, karena semakin kita belajar semakin kita sadar masih banyak hal yang kita tidak tahu. Saya pernah banyak melakukan kesalahan dan semoga tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi. Saya tidak lagi ingin merasa paling benar, maafkan jika selama ini saya melakukannya.
Saya masih menggunakan kerudung, hanya karena masih nyaman. Sebab saya akan meninggalkan sesuatu atau seseorang yang membuat saya tidak nyaman. Terus kenapa bentuknya seperti itu? Tidak syar’i. Karena saya sedang senang bergaya. Besok-besok mungkin saya tidak akan memakai jilbab atau malah menggunakan cadar, itu urusan saya.  Itu saja. Jika itu membuat saya tidak pantas masuk surga karena perubahan-perubahan saya. Biar saya yang menanggungnya. Terima kasih sudah mengingatkan saya.
Jika bisa memilih dan menghapus fase dalam hidup, saya ingin sekali menghapus fase ketika saya saat berusia 16-18 tahun. Namun, sepertinya fase itu tidak buruk-buruk amat dalam masa hidupku. Saya belajar banyak dari fase itu. Saya bertemu dengan banyak teman-teman yang baik meski hari ini komunikasi kami tidak selancar dulu. Tapi yang pasti saya selalu mendoakan mereka dari kejauhan, mendoakan mereka sehat dan berbahagia.
Oh ya ngomong-ngomong saya masih menyukai The Cranberries. Namun dari sekian lagu mereka saya tidak menyenangi “Show Me the Way”. Lagu itu seperti pernyataan menyerah untuk berhenti mencari. Saya tidak lagi ingin meminta siapa pun menunjukkan jalan mana yang lebih baik untuk dijalani. Saya akan menemukan cara ku sendiri, jalanku sendiri, meski saya tidak pernah benar-benar sendiri. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berburu Putu Cangkiri, Dari Tamalanrea ke Sungai Saddang Baru

Tulisan pertamaku yang dimuat di panyingkul!
reportase tentang jajanan tradisional
selamat membaca...


Selasa, 05-08-2008
Mungkin tak banyak yang tahu saban pagi ada pasar kaget di belakang RS Wahidin Sudirohusodo, Tamalanrea. Di sinilah sejumlah pedagang datang menjajakan kebutuhan bagi pasien maupun penjenguknya. Perlengkapan mandi, daster, pakaian juga makanan buat sarapan.

Para pedagang yang berkumpul membuat pasar kaget di belakang gedung rumah sakit ini adalah penduduk yang dulunya tinggal di kawasan kampus Unhas Tamalanrea. Tiga puluh tahun lalu, mereka bermukim di areal yang kini berdiri gedung Registrasi Unhas. Dengan iming-iming akan diganti uang tanah, mereka terpaksa pindah. Namun sampai saat ini, hanya sebagian ganti rugi. Disepakati kemudian, mereka pindah dengan syarat bisa berjualan di tempat yang sekarang ini dikenal sebagai pasar kaget di belakang rumah sakit.

Di pasar ini, jenis jajanan yang banyak dijumpai di sana adalah kue-kue tradisional. Salah satunya adalah putu cang…

Tentang kenapa saya pindah dari Jurusan Sastra Jepang ke Sastra Bugis-Makassar?

Pertanyaan itu sering sekali dilontarkan kepada saya sejak tahun 2009. Maka kurang lebih seperti ini jawabannya.

Adalah keberuntungan karena saya memiliki orang tua yang selalu membebaskan saya memilih dan menentukan sendiri jalan hidupku. Sejak kelas dua SMA, saya sudah melewati masa kebingungan memilih jurusan apa yang terbaik. Sebaik-baiknya jurusan adalah jurusan yang kau sukai dan minati, itu pikirku. Maka saya memilih Jurusan Bahasa meski pada akhirnya yang memilih jurusan itu hanya 12 orang di sekolahku. Saya menyukai Bahasa dan Sastra lebih tepat karena saya tak menyukai mengerjakan laporan praktikum dan sejenisnya, ya saya cukup malas untuk itu. Tentu saja Mama saya sempat memberi komentar "Sebenarnya saya berharap nantinya kau bekerja memakai pakaian putih-putih entah dokter, perawat, atau bidan." Namun kemudian ia merelakan pilihan saya sendiri, kukatakan saat itu saya hanya ingin menjadi guru, ya tentu saja itu jawaban yang asal-asalan juga.

Bersekolah di ibukot…