Langsung ke konten utama

Berburu Putu Cangkiri, Dari Tamalanrea ke Sungai Saddang Baru

Tulisan pertamaku yang dimuat di panyingkul!
reportase tentang jajanan tradisional
selamat membaca...


Selasa, 05-08-2008
Mungkin tak banyak yang tahu saban pagi ada pasar kaget di belakang RS Wahidin Sudirohusodo, Tamalanrea. Di sinilah sejumlah pedagang datang menjajakan kebutuhan bagi pasien maupun penjenguknya. Perlengkapan mandi, daster, pakaian juga makanan buat sarapan.

Para pedagang yang berkumpul membuat pasar kaget di belakang gedung rumah sakit ini adalah penduduk yang dulunya tinggal di kawasan kampus Unhas Tamalanrea. Tiga puluh tahun lalu, mereka bermukim di areal yang kini berdiri gedung Registrasi Unhas. Dengan iming-iming akan diganti uang tanah, mereka terpaksa pindah. Namun sampai saat ini, hanya sebagian ganti rugi. Disepakati kemudian, mereka pindah dengan syarat bisa berjualan di tempat yang sekarang ini dikenal sebagai pasar kaget di belakang rumah sakit.

Di pasar ini, jenis jajanan yang banyak dijumpai di sana adalah kue-kue tradisional. Salah satunya adalah putu cangkiri yang dijajakan Hj. Jauwiyah yang mengaku kue ini sangat mudah dibuat. Tahu kan putu cangkiri? Kue sederhana yang nikmati disantap hangat-hangat, terbuat dari tepung beras dengan isi parutan kelapa di tengahnya. Soal namanya, mengapa disebut putu cangkiri, konon karena bentuknya yang mirip dengan bagian bawah cangkir bila hasil cetakan kue ini diletakkan terbalik.

Ada dua jenis putu cangkiri. Merah dan putih. Yang pertama menggunakan gula merah, sedangkan jenis kedua menggunakan gula putih.

Hj. Jauwiyah menjelaskan, cara membuatnya memang sangat sederhana, gula dibasahi lalu dicampurkan dengan tepung beras dengan cara diremas-remas. Setelah tercampur rata, adonan tepung beras dan gula itu siap cetak di atas jolo-jolo. Di bagian tengahnya diisi dengan parutan kelapa muda sebelum dikukus. Agar putu cangkir ini tidak lengket saat ditata di piring, diberikan potongan daun pisang atau pandan berbentuk persegi ukuran 3×3 cm di bagian bawahnya.

“Sebentar sekali ji itu na masak, tidak cukup satu menit!” tutur Hj. Jauwiyah.

Menurutnya, jika ingin mencobanya di rumah, Anda bisa menyediakan satu kilogram tepung beras dengan gula setengah kilogram dan kelapa dua biji. Hasilnya mencapai lima puluh biji putu cangkiri. Tapi harap dicatat, cara memasaknya mesti hari-hati agar putu ini tidak rusak atau terburai bila lama mengukusnya tidak pas.

Kue ini termasuk jajanan murah meriah. Dengan modal Rp2.000 Anda bisa menikmati tiga biji putu cangkiri buatan Hj. Jauwiyah. Jika tertarik, datanglah ke belakangan Rumah Sakit Wahidin di pagi hari. Tapi ingat, jangan sampai terlambat! Sebelum pukul delapan putu cangkiri ini biasanya sudah habis.

Namun jika ingin menikmati putu cangkiri di sore hari dan malam hari, beberapa tempat yang bisa menjadi pilihan lain adalah penjaja putu cangkiri di depan Pasar Pa’baeng-baeng, di Jalan Sulawesi, Jalan Sangir dan di penjual Songkolo’ Bagadang Antang, di sekitar perempatan Pasar Daya, dan Jalan Sungai Saddang Baru.

Susah-susah gampang

Nah, sekarang mari kita temui penjual putu cangkiri lainnya bernama Hasna. Enam bulan terakhir ini ia menjajakan putu cangkiri di Jalan Sungai Saddang Baru. Sebelumnya ia hanya pedagang warung rumahan di kediamannya Jalan Andi Tonro. Lalu lintas yang sering macet di depan rumah dan banyaknya tetangga yang mengutang, menjadi alasan ia berusaha keras mencari tahu cara membuat putu cangkiri agar bisa banting stir menjadi penjaja kue tradisional ini. Mulai dari bertanya-tanya pada orang terdekat, mengunjungi penjual putu cangkiri terkenal di Makassar, sampai harus merongoh uang sebesar Rp500.000 untuk berguru pada penjual putu cangkiri yang ada di Pasar Pa’baeng-baeng.

Namun hal itu pun belum membuatnya puas. Membuat putu cangkiri adalah pekerjaan yang susah-susah gampang. Setelah berguru pada pedagang yang lebih senior dan terkenal tadi, putu cangkiri buatannya belum bisa ia kategorikan sebagai putu yang bagus. Nanti setelah seorang penggemar putu cangkiri yang kebetulan mencicipi buah tangannya, ia mendapat kesempatan diajarkan bagaimana membuat putu cangkiri yang lezat. Akhirnya wanita kelahiran Sengkang, Wajo, ini percaya diri merintis usaha barunya. Apa tips dan trik itu? Ia enggan mengungkapkannya.

Sejak awal memulai usaha, lokasi berjualan Hasna tak pernah berpindah hingga kini. Di depan sebuah bengkel mobil. Jika bengkel itu banyak pelanggan dan tutup larut malam, ia akan menjajakan putu cangkirinya di depan gardu keponakannya. Ia menjual mulai pukul 3 sore hingga pukul 12 malam. Jika sedang laris, ia tentu bisa pulang beristirahat lebih awal.

Jarak antara rumah dan tempat berjualan Hasna yang lumayan jauh bukanlah penghalang baginya. Peralatan-peralatannya ia titip di gardu keponakan. Ia menganggap keponakannya seperti anak sendiri. Ia cukup membawa bahan dari rumah.

“Tidak terlalu repotma, Nak, baru amanji di sini!”

Satu hal lagi yang menjadikan usaha ini disebut susah-susah gampang sebab bahan-bahannya tak semurah yang dulu. Jika diminta menghitung berapa keuntungan per hari, Hasna yang memiliki nama kecil Indo Ucu ini angkat tangan.

“Untungnya sedikit ji, ndak tentu juga.”

Hasnah enggan menyebut angka pastinya. “Ndak bisa diomong,” katanya.

Ia hanya merinci harga bahan-bahannya. Gula merah Rp12.000 per kilogram. Minyak tanah Rp4.000 per liter. Kelapa Rp4.000 per butir. Tepung beras Rp8.000 per kilogram. Jika menggunakan gula putih sedikit lebih murah, dengan harga gula pasir Rp6.400 per kilogram.
Berbeda dengan pedagang putu cangkiri di Pasar Pa’baeng-baeng yang biasa menghabiskan dua puluh liter adonan. Setiap hari Hasna hanya menyiapkan empat liter adonan putu cangkiri.

Harga bahan yang melonjak membuat Hasna terpaksa menaikkan harga putu cangkirnya. Rp500 per biji menjadi Rp700. Tentu saja, kata Hasna, kenaikan harga ini mengurangi jumlah pelanggannya.

Menurut Hasna, putu cangkiri buatannya sedikit lebih mahal namun berkualitas, tidak seperti pembuat putu cangkiri lainnya yang mengandalkan sari manis demi menekan harga.

Untuk melengkapi usaha putu cangkirinya, Hasna juga menjajakan rokok batangan yang dipajang di lemari kecil yang menjadi satu-satunya etalase gerai jualannya yang sederhana.

Enam bulan berdagang, cukup membuahkan hasil. Dari berjualan putu cangkiri, Hasna bisa membeli dua buah becak buat suaminya. Jika tak ada panggilan menjadi buruh bangunan atau mengecat rumah, suaminya bisa menarik becak.

Bagi Hasna, “Putu cangkiriji kubilang masuk akal,” Maksudnya, inilah mata pencaharian yang masuk akal bagi dirinya. (p!)

Komentar

  1. artikelnya bagus, ijin share di https://ksmtour.com ya, terima kasih

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang kenapa saya pindah dari Jurusan Sastra Jepang ke Sastra Bugis-Makassar?

Pertanyaan itu sering sekali dilontarkan kepada saya sejak tahun 2009. Maka kurang lebih seperti ini jawabannya.

Adalah keberuntungan karena saya memiliki orang tua yang selalu membebaskan saya memilih dan menentukan sendiri jalan hidupku. Sejak kelas dua SMA, saya sudah melewati masa kebingungan memilih jurusan apa yang terbaik. Sebaik-baiknya jurusan adalah jurusan yang kau sukai dan minati, itu pikirku. Maka saya memilih Jurusan Bahasa meski pada akhirnya yang memilih jurusan itu hanya 12 orang di sekolahku. Saya menyukai Bahasa dan Sastra lebih tepat karena saya tak menyukai mengerjakan laporan praktikum dan sejenisnya, ya saya cukup malas untuk itu. Tentu saja Mama saya sempat memberi komentar "Sebenarnya saya berharap nantinya kau bekerja memakai pakaian putih-putih entah dokter, perawat, atau bidan." Namun kemudian ia merelakan pilihan saya sendiri, kukatakan saat itu saya hanya ingin menjadi guru, ya tentu saja itu jawaban yang asal-asalan juga.

Bersekolah di ibukot…

Tentang The Cranberries, Linkin Park, dan Perubahan Gaya Jilbab Saya

Sudah nyaris 10 tahun sejak saya merayakan ulang tahun ke-17 di sekolah. Ada banyak yang terjadi selama 10 tahun ini. Kupikir tulisan ini tidak begitu penting, namun semoga bisa memberikan jawaban atas pertanyaan kalian mengapa jilbab lebar saya berubah menjadi selembar kerudung saja? *psst memangnya sepenting apakah itu bagi hidupmu? Jika tidak penting, tidak usah dilanjutkan membacanya ;)
Jika bisa memilih dan menghapus fase dalam hidup, saya ingin sekali menghapus fase ketika saya saat berusia 16-18 tahun. Fase ketika saya selalu merasa paling benar dan belum tahu yang namanya mengkritisi diri sendiri. Pokoknya ketika belajar satu hal, baru selesai baca satu buku, sudah itulah yang paling benar, saya buru-buru mempraktikkannya. Masa-masa itu saya sedang senang-senangnya belajar agama Islam. Saya bersekolah di sekolah negeri, bukan pesantren. Namun justru itu yang membuat saya bertanya mengenai banyak hal. Saya ingin “mencari sendiri” bukan beragama hanya karena orang tua ku kebetul…